
Robert Cappa, pada 6 Juni 1944 bersikeras mengabadikan pendaratan tentara
sekutu di pantai Normandia. Dia lebur bersama ribuan pasukan sekutu dengan
hanya bersenjatakan kamera kecil. Dengan perasaan bergetar dan kengerian
yang dalam, dia tetap berharap dapat memberi tahu dunia atas peperangan yang
kejam ini.
Meski akhirnya dia harus menyelamatkan diri dari pertempuran yang sengit
itu, dengan perasaan getir dia berkata "sehari sebelumnya mereka pemuda yang
sangat bahagia, hari ini mereka tewas dengan mengenaskan". Pertempuran itu
menewaskan lebih dari 4000 orang pemuda Amerika berusia 20 tahunan.
Foto-foto Cappa adalah saksi bisu perjuangan mereka dalam mengalahkan Nazi.
Robert Cappa meninggal karena terkena ranjau pada peliputan perang Vietnam.
Sultan Harun Ar-Rasyid tak kuasa menitikkan air mata ketika
menerima titipan cincin kesultanan dari seseorang. Cincin itu adalah milik
putra mahkota sang sultan. "Dia anak lelaki yang shaleh. Setelah saya
meminta untuk menggantikan posisi saya, Dia memilih meninggalkan kemewahan
istana dan hidup penuh ketaatan pada Allah" ratapnya. Kemegahan dan
kemewahan istana tak mampu menghalangi pilihan putranya. Putra Harun
Ar-Rasyid memilih hidup menjadi seorang sufi. Beliau meninggal sebagai
tukang cat harian di pasar.
Dalam suatu acara di MetroTV bertajuk "Courage", ada seorang
penyemir sepatu tuna grahita yang mensedekahkan lebih dari 2/3
penghasilannya per hari. Setiap hari beliau membagi-bagikan balon kepada
pasien anak-anak. Setelah 15 tahun menjalankan profesi ini dan terus
berderma, total uang yang dia belanjakan untuk anak-anak tersebut ternyata
lebih besar dari charity yang pernah dikeluarkan Bill Gates.
Apa yang membuat Cappa menempuh resiko yang demikian besar? Apa
yang membuat putra Harun Ar-Rasyid mencintai hidup sederhana? Apa yang
membuat penyemir sepatu mencintai "kehilangan" uang selama 15 tahun?
Hasrat adalah jawabannya. Ketika kesulitan dan kemudahan menjadi dua sisi
yang dicintai, ketika tantangan dan kesempatan menjadi harapan, ketika cinta
dan pengorbanan disadari sebuah keniscayaan, ketika derita tirakat dan
kesucian batin sama-sama dirindukan, ketika melayani dan kepuasan hati sudah
menyatu maka saat itulah hasrat bersama anda.
Hanya hasrat yang bisa membuat seseorang mampu memberikan
performa yang terbaik bagi dirinya. Bila seorang penyemir sepatu tuna
grahita (dengan segala hormat tanpa bermaksud merendahkan beliau) dengan
hasrat kasih sayangnya bisa menyamai pengorbanan seorang Bill Gates,
bagaimana bila anda menggunakan hasrat anda? Sayangnya tidak setiap kita
berhasrat yang kuat pada hidup dan profesi kita. Tidak semua karyawan dalam
sebuah perusahaan tidak berhasrat besar. Hanya dibutuhkan performa diri yang
optimal untuk menjadi pribadi unggul.
Apa yang akan kita lakukan bila tak cukup mempunyai hasrat? Anda
bisa mencintai sisi baik kehidupan atau profesi anda maka anda berhasrat
hanya sesaat. Mulailah mencintai seluruh sisinya semoga anda akan berhasrat
selamanya.
H. Afandi Rachman (Trainersclub)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar