.jpg)
Hari ini rasanya sungguh aneh. Yulia merasa dikelilingi oleh berbagai
kejadian yang mirip antara satu dengan yang lainnya. Yulia teringat
kejadian kemarin waktu dia pergi ke sebuah mal.
Ketika sedang turun melalui tangga berjalan, di hadapannya terdapat
seorang ibu dan anak perempuannya yang masih kecil. Ibu itu berdiri
di depan, anaknya di belakang bersama seorang babysitter. Anak ini
memegang kantong makanan ringan yang sudah dibuka di tangan kirinya.
Agak kerepotan juga karena lengan kirinya dipegangi sang babysiter.
Tangan kanannya berusaha memegangi kantong makanan ringan tersebut.
Ibunya kemudian menoleh ke belakang dan berkata:"Sini kantong
makanannya, ibu bawakan. Biar tidak repot." Anak itu ragu-ragu
sejenak. Tapi setelah berpikir sebentar, dia mengulurkan tangannya
sambil berkata:"Jangan dimakan!". "Nggak", kata ibunya. Anak itu
percaya perkataan ibunya dan menyerahkan kantong makanannya. Tapi
Yulia kaget ketika melihat sang ibu langsung mengambil dan
memakannya. Anak kecil itu berteriak:"Jangan dimakan!". Si ibu hanya
tertawa.
Sesampainya di bawah, anak kecil tadi merebut kembali kantong makanan
dari tangan ibunya sambil marah-marah. Yang membuat Yulia sedih,
Yulia melihat ekspresi kekecewaan dalam diri anak tersebut. Janji
ibunya yang dipercayainya, ternyata tidak ditepati.
Mungkin bagi sang ibu, kejadian itu dianggap lucu. Tapi bagi si anak,
hatinya luka dan kecewa. Apa arti sebuah janji kalau tidak bisa
dipercaya? Kalau lain kali ibunya berjanji seperti itu lagi, apakah
anaknya bisa percaya?
Ingkar janji
Yulia teringat ketika dia dulu masih kecil. Kebetulan Yulia senang
ilmu bela diri. Yulia memiliki seorang paman yang sangat baik. Suatu
kali pamannya ini membicarakan ilmu bela diri Yulia. Pamannya
kemudian ingin mengukur kekuatan pukulan Yulia. Beliau meminta agar
Yulia memukul lututnya. Yulia menolak karena tidak ingin menyakiti
lutut pamannya. Tapi pamannya meyakinkannya bahwa beliau tidak akan
sakit.
Dari bimbang, akhirnya Yulia percaya penuh pada pamannya. Dia pun
mengepalkan tinjunya yang kecil dan memukul lutut pamannya dengan
keras. Tepat pada saat tinjunya hampir mengenai lutut sang paman,
beliau menggerakkan lututnya dan menghindar. Kepalan tangan Yulia
membentur pinggiran kursi yang terbuat dari kayu. Sakitnya bukan
kepalang. Tapi, yang lebih sakit lagi adalah hatinya. Yulia sangat
kecewa karena pamannya ternyata menipunya. Dia sudah menaruh
kepercayaan penuh pada pamannya, tapi sang paman mengkhianatinya.
Tapi pamannya terus tertawa karena menganggap kejadian itu lucu.
Sungguh menyakitkan hati.
Rina, rekan kerja di ruang sebelah juga sedang menggerutu. Rina sudah
lama berteman dengan Meri. Kemarin Meri pindah rumah. Rina yang sudah
pernah merasakan repotnya pindah rumah berniat membantu Meri. Karena
itu Rina mengatakan agar Meri tidak perlu khawatir. Rina pasti akan
membantunya membereskan barang-barang di rumah barunya. Tapi kemarin
Rina sibuk sekali di kantor. Karena itu, sorenya Rina malas ke rumah
Meri. Ternyata Meri menelepon dan menanyakan mengapa Rina tidak
datang. Meri menagih janji Rina.
Tapi rupanya Rina tidak suka. Memangnya saya berutang pada Meri?
Katanya. Yulia menjawab :"Janji adalah utang."
Ferdi tadi menelepon. Dulu Ferdi bekerja di kantor tempat Yulia
bekerja. Sudah dua tahun dia di sana. Kemudian dia pindah bekerja di
perusahaan lain. Baru dua minggu dia bekerja di perusahaan yang baru
itu. Ketika akan masuk kerja, dia dijanjikan mobil dan jabatan yang
tinggi. Tentu saja Ferdi senang sekali bekerja di perusahaan
tersebut.
Tapi ternyata fasilitas yang sudah dijanjikan tidak sesuai. Tak ada
mobil. Ketika Ferdi menagih ke atasannya sesuai janjinya, malah
beliau tersinggung. Katanya, dia kan tidak berutang apa-apa? Lagipula
belum kelihatan hasil kerjanya kok minta mobil. Kalau ternyata
perusahaan berat memberikan mobil, mengapa dulu begitu mudah
mengucapkan janji? Bukankah janji adalah utang?
Di bagian penjualan, pagi tadi ada pelanggan yang marah-marah karena
salah seorang karyawan berjanji akan datang pukul sembilan sambil
membawakan formulir pesanan, ternyata hingga dua hari dia tidak
muncul. Ada juga yang marah-marah karena bagian penjualan berjanji
akan menelepon sepuluh menit lagi, eh ternyata sudah satu jam tidak
juga menelepon. Padahal orang tersebut sudah menunggu di samping
pesawat telepon.
Hari ini Yulia belajar sesuatu. Sebagian orang sangat meremehkan
janji. Padahal janji adalah utang yang harus ditepati. Yulia berniat
tidak akan terlalu mudah mengucapkan janji. Dia sadar kadang-kadang
janji diucapkan hanya untuk menunjukkan pada orang lain bahwa dia
baik. Tapi Yulia diingatkan, bukan janji yang membuat orang kagum
pada kita. Tapi menepati janji yang pernah diucapkan jauh lebih
berharga. "Janji adalah utang". Keep your promise!
Lisa Nuryanti, Director Expands
Consulting & Training Specialist
Tidak ada komentar:
Posting Komentar